Home
Renungan Prapaskah 2017
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Indonesia
* Meditasi Kristiani Anak

Bahasa Inggris
* WCCM
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests










Kolom Tanya Jawab:

Pertanyaan bisa langsung dikirimkan ke: [email protected]
Terima kasih


Pertanyaan:
Saya memiliki kerinduan yg sangat dalam untuk selalu mengalami hadirat Allah dalam doa saya. Saya ketua komunitas basis di salah satu lingkungan/kring. Berkaitan dengan itu, saya membeli buku Meditasi Kristiani karangan Romo. Saya sudah mempraktekan sendiri, lalu saya coba mengajak teman-teman lainnya untuk bergabung. Cukup bagus doa ini. Ada satu hal yg unik yg saya alami sejak pertama kali bermeditasi dengan cara ini. Di tengah doa muncul gerakan tertentu disertai dorongan sangat kuat dan susah dilawan. Gerakan ini tidak harus selalu sama. Yang paling sensitif dari tubuh saya adalah jari-jari tangan saya, tiba-tiba muncul seperti gemetaran kecil dan lama-lama menjadi besar, tapi kemudian mengecil lagi. Mohon bantuan Romo untuk mengarahkan saya berkaitan dengan doa dan gerakan tubuh ini. (Seorang bapak di Mataram)

Jawaban:
Saya senang mendengar cerita bahwa bapak sudah mencoba bermeditasi dengan menggunakan mantra. Untuk menjawab pertanyaan bapak, saya uraikan dalam beberapa poin berikut ini.
  • Meditasi itu hanya punya satu tujuan yaitu Allah atau hidup di hadirat-Nya. Jadi, meditasi itu praktek hidup di hadirat Allah.
  • Namun, untuk hidup di hadirat Allah dan selalu sadar akan kehadiran-Nya itu amat sulit, karena pikiran kita akan mengembara, maka kita menggunakan satu alat bantu yang kita sebut mantra: satu kata atau satu ungkapan pendek yang diulang terus-menerus dengan penuh perhatian!
  • Karena itu, selama meditasi, kita hanya mau mengulangi mantra itu, sambil mendengarkannya, dan itu dilakukan dengan penuh perhatian.
  • Kalau dengan penuh perhatian, maka pastilah hanya satu obyek tunggal yang jadi perhatian kita yaitu mantra kita.
  • Bila demikian, semua hal lain, selain mengucapkan mantra, kita anggap gangguan. Semua adalah gangguan, entah itu hal yang baik atau tidak baik, setan atau malaikat, semuanya gangguan. Saya harap ini menjawab pertanyaan bapak.
  • Lalu, bagaimana saya mengatasi gangguan atau menghalau gangguan itu? Perhatikan, setiap kali ada gangguan, kemungkinan Anda tidak sedang mengucapkan mantra. Itu selalu. Dan itu berarti Anda tidak sedang memberi perhatian penuh pada mantra Anda. Maka, kembali ke mantra Anda setiap kali Anda sadar Anda tidak sedang mengucapkan mantra Anda. Peganglah prinsip ini dengan baik.
  • Kenapa begitu menekankan pengucapan mantra dan menganggap yang lainnya itu gangguan? Jawaban saya: umpamakan Anda sedang mendaki sebuah gunung dengan menelusuri sebuah jalan kecil menuju puncak. Tujuan Anda adalah puncak. Maka kalau Anda tidak mengucapkan mantra, sama dengan Anda tidak sedang menelusuri jalan kecil itu, dan itu akan menyesatkan bukan? Atau kalau waktu mendaki gunung, Anda melihat panorama yang indah (= tangan gemetar, penglihatan dll) dan lalu berhenti menikmati, maka Anda tidak sedang berjalan menuju puncak. Dan itu namanya rasa kagum yang meracuni perjalanan Anda. Padahal, di puncak, segalanya akan lebih indah dan menggetarkan. Jadi, teruslah berjalan naik sampai ke puncak. Ikuti jalan kecil itu, jangan keluar jalan karena Anda akan tersesat!

Amin! Siriakus Maria Ndolu O Carm


Pertanyaan:
Saya seorang meditator pemula. Saya ingin bertanya: Apakah ada cara yang efektif untuk mengendalikan pikiran yang melantur ketika kita bermeditasi? (Seorang bapak di Balikpapan)

Jawaban:
Semua orang yang bermeditasi akan mengalami hal yang sama.
Jawabannya sangat sederhana sbb:
Pertama: Jangan gelisah karena anda mengalami pelanturan.
Kedua : Jangan menuruti pikiran yang melantur.
Ketiga : Dengan demikian kita berjuang mengabaikan ego kita, karena kita mencari dan merindukan Tuhan.
Keempat : Bila kita menyadari bahwa kita melatur, kembali sesegera mungkin untuk mengucapkan mantra kita dengan sepenuh hati dan perhatian.
Kelima : Kapan pelanturan tidak akan mengganggu lagi? Mungkin sesudah kita meninggal!

Salam hangat dan ma-ra-na-tha. Cyprianus Verbeek, O.Carm.








YOUTUBE: