Home
Daily Wisdom
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
> > Bandung
> > Bogor
> > Jakarta
> > Malang
> > Surabaya
> > Yogyakarta
> > Surakarta
> > Semarang
> > Purwokerto
> > Medan
> > Sibolga
> > Padang
> > Samarinda
> > Pontianak
> > Makassar
> > Maumere
> > Denpasar
> > Mataram
> > Ruteng (Borong)
> > Ende
> > Tanjung Pinang
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami













Links:
Bahasa Indonesia
* Meditasi Kristiani Anak

Bahasa Inggris
* WCCM
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests










Berita & Foto:

Meditasi Di Tengah Kesibukan



Rekoleksi Komunitas Meditasi Kristiani Jakarta
Gedung Gamelan St. Ursula, 23 Agustus 2009
Rm Siriakus Maria Ndolu O Carm



Kita adalah orang-orang sibuk, kita hidup dalam "dunia Marta". Sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas 10: 38-42 tentang Marta yang sibuk dan selalu sibuk. Demikian juga kita sibuk dan selalu disibukkan dengan banyak hal yang harus kita lakukan. Ada berbagai tugas dan pekerjaan yang mau kita selesaikan. Walau demikian dalam kata-kata John Main, jangan sampai kita:

"kehilangan kesegaran, kreativitas, kebebasan. Sebab kalau kita menjalankan rutinitas dan kesibukan kita secara mekanik saja, maka kita akan jatuh ke dalam ketergesa-gesaan, hidup terburu-buru dari satu rutinitas ke rutinitas lainnya. Untuk itu kita harus mematahkan lingkaran ini, kita harus mematahkan hidup yang tergopoh-gopoh. Kita harus belajar tenang. Dan keteraturan meditasi akan memungkinkan hal itu"
(The Door to Silenc)

Namun, mungkinkah kita melakukan meditasi di tengah segala kesibukan kita, di tengah kebisingan berbagai aktivitas kita, disela-sela rutinitas harian kita? Dan bila itu mungkin, bagaimana kita mesti melakukannya?

I. MUNGKINKAH BERMEDITASI DI TENGAH SEGALA KESIBUKKAN KITA?

Ada beberapa hal kecil yang dapat membantu kita menjawab pertanyaan ini.

* Inkarnasi Allah: "Dia Yang Suci" Menyentuh "Hidup kita"
Oleh peristiwa inkarnasi – "Allah menjadi Manusia", Allah mengenakan kodrat manusiawi kita dan menyentuh segala aspek hidup kita dengan segala situasi yang mengitarinya. Dalam kata-kata Thomas Merton, "Dengan inkarnasi, Allah menjadikan kudus manusia dan kehidupannya. Allah menyucikan kehidupan kita" . Kata-kata Merton ini mau menghapus segala bentuk dualisme yang membedakan antara rohani dan duniawi, antara yang suci dan tidak suci. Baginya, semuanya adalah suci. Catatan: Bila segalanya suci berkat inkarnasi, maka bagi kita segala tempat itu adalah tempat suci, tempat dimana kita mesti "menanggalkan kasut kita" dan berdoa kepada Allah. Bila segala tempat itu tempat suci, maka kita dapat berdoa dan bermeditasi dimanapun jua kita berada - di gereja atau di luar gereja, entah di hutan, di ladang, di rumah, di jalan - termasuk di tempat dimana kita bekerja dan beraktivitas.

* "Saat Kini" (present moment) itu Suci.
Karena oleh Inkarnasi Allah menyucikan kehidupan manusia maka bagi orang yang suci hatinya, "saat dimana kita sedang berada dan beraktivitas" ("saat kini" - present moment) adalah "saat yang suci". Jadi, baginya "saat kini" atau "saat ini" dapat menjadi sebuah saat yang kontemplatif dimana hatinya terbuka dan terarah kepada Allah. Barangkali kata-kata puitis Thomas Merton berikut membantu:

Bunga ini,
Cahaya ini,
"Saat ini",
Keheningan ini:
DOMINUS EST. AETERNUM!


Merton ingin mengajak kita untuk menyadari bahwa "saat kini" itu suci. "Saat kini" akan menjadi sebuah dialog tanpa henti dengan Allah – saat intim, saat persatuan. Itulah sebabnya mengapa penulis rohani besar asal Perancis abad ke-17, Jean Pierre de Caussade SJ (1675-1751), menyebut "saat kini" sebagai "Sakramen saat kini" (The sacrament of the present moment) yaitu tanda yang mengingatkan kita bahwa Allah hadir menyertai kita dan membimbing kita. Catatan: Bila "saat ini suci" maka kita dapat berdoa entah pada waktu-waktu doa maupun di luar waktu doa – termasuk waktu kita bekerja, kita sibuk dan beraktivitas.


* Allah itu "Saat kini"

Salah satu penafsiran yang diberikan oleh Allah pada Musa: "Aku adalah Aku" (Kel 3:14) ialah "Aku adalah saat kini" atau Aku hadir pada saat kini dan disini". Allah menyebut diriNya dengan "Saat kini" dan Ia menjadi Allah yang "hadir saat kini dan disini". Ia tidak pernah menjadi "masa lalu" dan "masa depan". Ia selalu "Saat kini"/

Nama yang diberikan kepada "Yang Mahakudus" sebagai "Hadir saat kini dan disini" kembali diperlihatkan dalam identitas diri Yesus: "Sebelum Abraham ada, Aku ada" (Yoh 5:58). Dan gambaran yang memperluas identitas diri ini adalah "Akulah roti kehidupan (Yoh 6:35), "Akulah terang dunia" (Yoh 8:12) dan "Akulah pokok anggur yang benar" (Yoh 15:1).

"Hadir saat kini dan disini" lebih jauh berkembang dalam Injil Matius ketika Yesus disebut "Imanuel" atau "Allah menyertai kita" (Mat 1:23)

Teologi St. Paulus tentang Roh Kudus meneguhkan makna kehadiran ini: "Roh Allah diam di dalam kamu" (Rm 8:9). Artinya kemana kita pergi, dimana dan kapanpun kita berada, Allah selalu "Allah beserta kita". Kita tidak dapat mengatakan bahwa ketika kita berada di suatu tempat atau berada dalam suatu situasi, Allah tidak hadir disitu. Ya, tidak bisa karena Ia adalah "Allah yang selalu hadir"

Di dalam tradisi, Regula St. Benediktus (bab 19:1) menegaskan bahwa "kita percaya bahwa kehadiran ilahi itu dimana-mana". Sementara itu St. Ignatius dari Loyola mengajar kita untuk menemukan Allah di dalam segala sesuatu. Doa pembukaan Hari Minggu Biasa ke enam menggemakan hal senada ketika kita berdoa: "Bantulah kami untuk hidup di dalam kehadiranMu". Tradisi-tradisi ini memperlihatkan bahwa "dimana kita berada – saat kini dan disini – Allah hadir. Dan karena itu kita selalu bisa menemukan Dia kapan dan dimanapun. Catatan: "Bila Allah itu Saat kini" maka kalau kita menaruh perhatian pada apa yang kita alami dan kita lakukan saat kini, maka kita akan terbantu untuk menyadari Dia selalu pada segala waktu. Dengan menaruh perhatian pada saat kini, kita memberikan perhatian kita pada Dia – "Sang Kehadiran" yang senantiasa ada-hadir pada saat kini. Tradisi kita menyebutnya "age quod agis", melakukan apa yang sedang kita lakukan, atau hidup "hic et nunc" – hidup disini dan saat kini, atau sering juga disebut sebagai "mindfulness"

* Panentheisme

Panentheisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa segala sesuatu itu di dalam Allah dan Allah adalah di dalam segala sesuatu. Kata "EN" dalam panentheisme berarti "di dalam". Ini tentu beda dengan Pantheisme. Pantheisme itu sebuah heresi (bidaah ) yang mengajarkan "segala sesuatu itu Allah dan Allah adalah segala sesuatu.

Karena "segala sesuatu ada di dalam Allah dan Allah ada di dalam segala sesuatu", maka bagi doktrin Panentheisme, dunia itu sebuah "SAKRAMEN". Dan oleh karena itu segala sesuatu itu memancarkan Allah. Artinya, a). Allah ada dimana-mana. Ia itu Deus Omnipresens (Allah Maha hadir). b). kita dapat melihat setiap peristiwa hidup kita dan setiap hal sebagai "Yang Ilahi". c). kabar baik atau kabar buruk diyakini akan melahirkan "rahmat ilahi". Keyakinan ini diteguhkan dengan mengutip Echkart, seorang Mistikus Jerman: "Kita hendaknya melakukan penerobosan atau penetrasi dan menemukan Allah di sana". d). penderitaan dilihat sebagai "Pewahyuan Allah" sebagaimana kegembiraan. Echkart berkata "segala sesuatu memuji Allah. Kegelapan, berbagai kekurangan, segala cacat, kejahatan, setan-setan memuji Allah".

Kalau Allah itu Omnipresens (Mahahadir), transparan, maka menurut doktrin panentheisme: adalah lucu kalau orang merasakan ketidakhadiran Allah. Ini sebuah yang menggelikan. Ingatlah KHABIR, seorang penulis kenamaan India: "saya tertawa ketika orang berkata bahwa ikan di dalam kolam haus". Spiritualitas ini menertawakan orang yang mengeluh tidak mengalami Allah yang omnipresent, Allah yang transparan.

Kita semua orang Kristen dipanggil untuk mengalami Allah dalam segala sesuatu dan di mana-mana. Beato Titus Bransdma, seorang Karmelit, berbicara sangat bagus tentang hal ini: "dalam segala hal saya melihat Allah berkarya. CintaNya membekas dimana-mana, kadang-kadang saya merasa diseret oleh suka cita yang besar. Ya, kegembiraan yang melampaui rasa gembira lain". Thomas Merton, seorang rahib Trappist Amerika dalam karyanya ‘Seeds of Contemplation’ mengatakan: " Setiap saat dan peristiwa dalam kehidupan manusia membawa benih-benih daya kekuatan rohani". Dengan kata lain, kita mesti melihat setiap kesempatan yang kita lalui sebagai sakramen kehadiran Allah. Peristiwa yang kecil-kecil yang rasanya tidak mudah untuk diingat dan kesempatan yang sepele, yang mungkin tidak berarti, seringkali memancarkan ‘Yang Ilahi’. Yang perlu kita lakukan sekarang ialah membuka mata batin kita untuk melihat daya kekuatan rohani yang tersebar dimana-mana dalam berbagai peristiwa dan kesempatan yang kita alami.

Catatan: Karena segala sesuatu itu sakramen Allah maka kita dapat terarah kepada Allah tatkala kita berjumpa dengan hal apapun: manusia atau makluk ciptaan lainnya.

Jadi, kiranya mungkin kita bermeditasi waktu kita sibuk, ketika kita berada di tempat-tempat ramai, tatkala kita berhadapan dengan apapun jua, baik dalam situasi batin kita baik atau buruk karena Allah ada dan selalu ada di sana. Yang kita butuhkan hanyalah membuka hati kita kepada Dia yang selalu ada -hadir itu. II. BAGAIMANA MELAKUKANNYA?. Untuk hal ini, baiklah kita belajar dari para kudus. Saya coba menunjukkan beberapa di antaranya: * Laurensius dari Kebangkitan: Ia adalah seorang biarawan Karmel OCD Perancis yang hidup antara tahun 1614-1691. Ia meninggalkan catatan-catatan, surat-surat dan nasihat-nasihat yang semuanya dikumpulkan dan diterbitkan dibawah judul PRAKTEK KEHADIRAN ALLAH. Inti nasihatnya adalah agar orang melakukan segala sesuatu dalam kesadaran bahwa ia sedang berada di dalam kehadiran Allah. Untuk itu di tengah pekerjaannya, orang perlu sejenak "rekoleksi" dengan menggunakan doa-doa pendek. Nasihat ini merupakan buah dari praktek panjang yang dilakukannya sebagai seorang bruder yang praktis selama hidupnya di biara bekerja di dapur biara.

"..... Dan aku mau mulai hidup seakan tidak ada apa-apa di dunia ini kecuali Dia dan aku....."

"....Aku menyembahnya sesering mungkin yang aku bisa, menjaga agar pikiranku selalu berada dalam hadiratNya yang kudus..... Aku tak menemui kesulitan apapun dalam menjalankan ini semua, dan aku selalu menjalankannya, tanpa mengingkari halangan-halangan yang ada, juga tanpa menyesali pikiranku yang kadang-kadang melayang-layang tak menentu. Aku menjadikan ini suatu hal yang harus aku lakukan sepanjang hari, juga di luar waktu doa yang ditentukan; karena pada setiap waktu, setiap jam, setiap menit, bahkan dalam keadaanku yang paling sibuk sekalipun, aku selalu mengusir dari pikiranku semua hal yang sekiranya dapat menginterupsi pikiranku akan Allah... Kalau kita sering melakukannya, ini akan menjadi kebiasaan sehari-hari, dan hadirat Allah akan datang secara alamiah saja kepada kita...."

"Bagiku, waktu untuk bekerja tidak berbeda dengan waktu untuk berdoa, di antara bunyi gemeletuk di dapurku. Sementara pada waktu yang sama beberapa orang lain bergelut dengan masalah yang berbeda-beda, aku merangkul Allah dalam keheningan sama seperti seakan aku sedang berlutut dalam sakramen yang penuh berkat..."

Setelah mengulas secara panjang lebar kisah hidup dan ajaran mengenai "Praktek Kehadiran Allah" dari Laurensius dari Kebangkitan, salah seorang editor penerbitan bukunya menyimpulkan bahwa doa bruder sederhana yang sehari-harian bekerja di dapur itu mungkin berbunyi demikian:

"Allah atas segala mangkuk dan panci, Allah atas piring dan senduk, Allah atas kuali dan dandang..... jadikanlah aku kudus karena aku telah menyiapkan makanan setiap hari...."

* St Hendrikus (Sales):

Ia lahir tanggal 2 Agustus tahun 1567 di sebuah kota dekat perbatasan dengan Swiss. Ia meninggal dalam usia 55 tahun tanggal 28 Desember 1622. Ia diangkat menjadi Uskup Geneva pada tahun oleh Paus Klemens VIII dan menjadi seorang Uskup yang sangat memperhatikan kehidupan kesalehan, doa dan kekudusan kaum awam. Bukunya yang sangat terkenal adalah "Introduction to a devout life" – sebuah buku yang banyak mengulas soal jalan-jalan kepada kehidupan kristiani kaum awam.

Ia sangat menekankan pentingnya doa sepanjang hari dan menganjurkan beberapa usulan bagaimana hal tersebut dilaksanakan. Sebenarnya ia menganjurkan suatu pola doa untuk satu hari yang barangkali membantu kita untuk "mengingat Tuhan sepanjang hari". Dia berkata:

"Masuklah ke dalan relung batinmu secara berkala sepanjang hari untuk mengingat Tuhan, untuk sadar akan kehadiranNya. Kita dapat melakukan ini bahkan di tengah-tengah kegiatan dan aktivitas kita..."

"...Selalu ingat untuk mengundurkan diri sejenak pada segala kesempatan untuk masuk ke dalam keheningan hatimu bahkan ketika engkau sibuk dengan berbagai diksusi dan transaksi dengan orang lain...".


Ada satu praktek rohani yang istimewa yang Fransiskus sungguh anjurkan karena karena praktek ini mungkin bagi kita semua:

"....Bahkan pada hari-hari yang tidak mungkin bagi kita untuk melakukan praktek-praktek rohani yang normal, kita tetap berakar dalam doa dengan terus-menerus mendaraskan doa-doa pendek kepada Tuhan......".

* St Edith Stein (Teresa Benedicta dari Salib):

Ia adalah seorang Karmelit OCD keturunan Yahudi. Ia lahir di Breslau, Jerman pada tanggal 12 Oktober 1891. Meninggal sebagai martir dalam kamp konsentrasi Nazi pada tahun 1942. Dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 11 Oktober 1998.

Sebelum masuk biara Karmelitas ia adalah seorang dosen dan penceramah terkenal yang benar-benar sangat sibuk. Walaupun demukian ia berusaha untuk menciptakan kesempatan kecil untuk "berhenti sejenak" atau "istirahat" di tengan-tengah kesibukan kita. Itu adalah cara yang dia pakai untus terus-menerus melakukan kontak dengan Tuhan dalam kesibukan kita.

Jadi, setiap hari dalam kesibukannya, ia mencoba menciptakan "berhenti sejenak" kecil untuk "tarik-nafas" dan mengatakan Tuhan atau Yesus, atau "Kasihanilah aku". Ini ia sebut "Latihan Keheningan". Kalau sudah menjadi biasa, maka "sejenak pause" itu bisa bertambah menjadi 5 menit atau sepuluh menit atau limabelas menit. Latihan ini akan memberikan kita kekuatan di tengah aktivitas kita dan membuat kita mampu meneruskan pekerjaan kita hari itu.

* Thomas Merton:

Ia seorang rahib trappist dari pertapaan Kentucky, Amerika Serikat yang hidup antara tahun 1915-1968. Ia dikenal sebagai seorang penulis rohani ternama pada masanya. Sebagai pembimbing rohani cakap, ia selalu mendorong orang Kristiani untuk mengalami hadirat Allah tidak hanya pada waktu doa dan dalam keheningan tetapi juga dalam rutinitas hidup setiap hari, dalam segala aktivitas dan kesibukan harian kita. Menurutnya, karena oleh inkarnasi Allah telah menyucikan kehidupan manusia, maka pengalaman akan Allah atau pengalaman kontemplatif tidak bertumbuh di luar konteks hidup manusia tetapi di dalam konteks kehidupan rutin manusia. Ia menyebut ini sebagai "kontemplasi tersamar". Kontemplasi tersamar ini mau menggambarkan bahwa orang berjumpa dan mengalami Allah dalam pelayanan, dalam kesibukan hariannya, dalam pekerjaan rutinnya. Bahwa seseorang itu adalah seorang kontemplatif tersamar, itu terungkap tatkala ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa-biasa saja tetapi dengan semangat yang luar biasa.

* St Gabriel Posenti, Passionist:

Ia meninggal semenjak masih sebagai frater, calon imam Pasionis. Ia sakit-sakitan, sehingga meninggal dalam usia muda. Tetapi ketika orang berusaha mencari kekudusannya, orang menemukan bahwa dalam catatan harian ia pernah melakukan beberapa niat dan janji kepada Tuhan. Dan salah satu niatnya adalah "mendoakan setiap saat doa-doa pendek" supaya ia selalu merasa dekat dengan Tuhan dan hidup dalam kehadiranNya".

*St Maximos, Seorang Pertapa Yunani:*

Ia adalah seorang pertapa yang hidup pada abad ke-empat. Diceritakan bahwa pada suatu hari ia pergi ke Gereja dan di situ ia mendengarkan pembacaan Injil, dimana Yesus menyuruh kita berdoa terus-menerus dengan tiada hentinya. Hatinya terkena, maka menurut rasa hatinya tiada lagi kewajiban lain baginya selain melaksanakan perintah ini. Ia keluar meninggalkan gedung Gereja, pergi ke pegunungan yang dekat dan mulai berdoa. Doa yang diketahuinya adalah doa Bapa Kami dan beberapa doa lain. Menurut keterangannya sendiri doa-doa itu didaraskannya terus-menerus. Hatinya merasa tenang karena ia berdoa dan tinggal dekat Tuhan. Ia merasa bahagia; segala-galanya kelihatannya sempurna. Tetapi tatkala matahari terbenam, hatinya menjadi dingin dan gelap. Di dalam suasana yang gelap itu ia mulai melihat hal-hal yang mengganggu hatinya. Ia mendengar ranting-ranting diinjak kaki binatang buas dan melihat ke dalam mata yang berkilauan; ia mendengar binatang-binatang kecil dikoyak oleh binatang yang besar dan sebagainya. Ia merasa sendirian, seorang makluk kecil yang tak terlindung di alam terbuka yang penuh bahaya, maut dan pembunuhan dan ia merasa akan musnah dan binasa kalau Allah tidak datang menolongnya. Ia berhenti berdoa Bapa Kami dan doa-doa lainnya. Ia berdoa tepat seperti Bartimeus: ia mulai berteriak: "Tuhan Yesus Kristus kasihanilah aku!" Demikianlah ia berteriak sepanjang malam, sebab binatang-binatang yang buas dan mata yang berkilauan tidak membiarkan ia tidur. Akhirnya fajar menyingsing; semua binatang sudah pergi tidur; maka ia berpikir: "Seakarang saya dapat berdoa". Tetapi ia merasa lapar dan mau mencari buah-buah di belukar; ia pergi ke situ, tetapi teringat bahwa semua mata yang bernyala dan kaki binatang yang kejam itu datang dari persembunyiannya di tengah-tengah semak itu. Dengan hati-hati sekali ia mencari jalannya dan setiap kali ia mengangkat kakinya, ia berkata: "Tuhan Yesus Kristus, tolonglah aku. Ya Allahku, lindungilah aku". Setiap kali ia memetik buah bes, ia mengucapkan doa itu beberapa kali.

Waktu berlalu. Beberapa tahun kemudian Maximos berjumpa dengan seorang pertapa yang berpengalaman. Si pertapa tua bertanya kepadanya, bagaimana ia membiasakan diri untuk berdoa terus-menerus". Sahut Maximos: "Saya kira setan sendirilah yang mengajar saya berdoa terus-menerus". Kata si pertapa: "Saya merasa saya mengerti maksudmu". Lalu Maximos menerangkan bagaimana ia semakin biasa atau sedikit demi sedikit terbiasa dengan bunyi-bunyi dan bahaya-bahaya pada siang dan malam hari. Sesudah itu ia diganggu oleh godaan-godaan: godaan daging, godaan roh, godaan hati dan kemudian serangan-serangan setan yang lebih berat lagi. Maka siang malang, setiap detik, ia berseru kepada Allah: "Kasihanilah aku, tolonglah aku, tolonglah aku". Setelah ia hidup demikian empatbelas tahun Tuhan menampakan diri kepadanya dan pada saat itu dia dipenuhi keheningan, kedamaian dan ketenangan. Ia sudah merasa tidak takut lagi akan kegelapan, semak berduri ataupun setan. Tuhan telah mengambil alih semuanya. "Baru pada saat itu" – kata Maximos – "saya mengerti bahwa saya sama sekali tidak mempunyai harapan apapun, kalau Tuhan sendiri tidak datang. Karena itu – meskipun saya sudah tenang, penuh kedamaian dan kebahagiaan - saya tetap berdoa dengan tiada henti-hentinya: Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, kasihanilah aku". Ia memahami bahwa hanya di dalam Allah sajalah orang dapat menemukan kedamaian hati, kedamaian roh, kedamaian daging dan kemurniaan kehendak. Dengan cara itu Maximos belajar berdoa.

Ini adalah beberapa contoh bagaimana orang kudus berusaha untuk tetap berdoa (doa singkat) atau bermeditasi dan selalu kontak dengan Allah dalam segala kesibukan dan situasi batin mereka. Dan sekarang bagaimana Meditasi Kristiani memungkinkan kita untuk bermeditasi dalam segala kesibukan kita.

III. MEDITASI KRISTIANI: DISIPLIN ROHANI UNTUK MEMBANGUN HIDUP DI HADIRAT ALLAH DI TENGAH KESIBUKAN HIDUP KITA

Sudah dikatakan bahwa orang dapat berdoa dan bermeditasi di segala tempat karena semua tempat itu suci, orang dapat berdoa dan bermeditasi di segala waktu karena waktu itu suci, orang dapat berjumpa dengan Allah dalam segala hal, karena segala hal itu ada dalam Allah dan Allah ada dalam segala hal. Juga sudah diperlihatkan bahwa bagaimana orang kudus atau orang-orang rohani berusaha untuk mempraktekkan doa dan meditasi pada segala tempat, waktu dan berjumpa Allah dalam hal apapun jua.

Tetapi ada satu hal lain yang harus kita katakan, yaitu bahwa berdoa di segala tempat dan waktu dan berjumpa Tuhan dalam apapun jua hanya mungkin kalau orang pernah berdoa pada tempat tertentu dan waktu tertentu, dan orang pernah berjumpa dengan Allah dan melihat Allah di dalam hatinya sendiri. Hanya bila itu sudah dilakukan dan dialami maka mungkinlah baginya untuk berdoa di segala waktu dan tempat dan bertemu Tuhan dalam segala hal. Perhatikan penekanan yang diberikan oleh Katekismus Gereja Katolik sebagai berikut:

"Tetapi kita tidak dapat berdoa setiap waktu bila kita tidak berdoa pada waktu khusus, dengan sadar mengingininya" (Katekismus Gereja Katolik 2697)

Dan itu kita akan alami dalam Meditasi Kristiani sebagai sebuah disiplin untuk berdoa pada waktu tertentu (pagi dan sore hari).

Bagi saya, Pater John Main memahami dengan baik bahwa hidup rohani, hidup doa, praktek meditasi, hanya mungkin kalau ada disiplin. Tanpa disiplin tak mungkin hidup rohani kita berkembang. Itulah sebabnya mengapa John Main melihat Meditasi Kristiani bukan sebagai sebuah teknik tetapi sebagai sebuah DISIPLIN.

"Anda tidak dapat bermeditasi bila anda tidak membangun atau membuat praktek meditasi ini sebagai sebuah pola yang tetap dan teratur, sebagai sebuah disiplin yang terus-menerus dan konstan...." (The Hunger for Depth and Meaning)

John Main membuat sebuah pembedaan yang jelas antara meditasi sebagai sebuah disiplin dan sebagai sebuah teknik....Jika kita mempraktekkam meditasi sebagai sebuah disiplin maka kita akan membuka sungguh-sungguh diri kita kepada meditasi sebagai sebuah perjalanan, perjalanan menuju pusat diri kita...." (Laurence Freeman, The Inner Pilgrimage of Meditation).

Bila dikatakan meditasi itu sebuah disiplin maka meditasi itu adalah sesuatu untuk "dijalani". Ia bukanlah sesuatu untuk "dikuasai" sebagaimana orang menguasai sebuah teknik untuk mencapai tujuan tertentu.

Kalau dikatakan bahwa meditasi itu sesuatu yang harus dijalani, itu berarti dalam meditasi tidaklah penting tujuan itu, tidaklah penting hasil atau apa yang akan kita peroleh darinya. Lakukan saja dengan tekun, setia dan penuh iman.

Dengan demikian meditasi akan selalu menempatkan kita sebagai murid (disciple) yang merupakan sisi lain dari disiplin
. Ya kita akan tetap sebagai murid. Dan barangkali inilah yang membuat kita, dalam meditasi, tidak pernah menjadi master. Kita semua tetaplah pemula. Dan memang mesti demikian karena Yesus berkata Guru kita hanya satu yaitu Kristus.

Sebagai disiplin, meditasi juga akan menempatkan kita tetap sebagai peziarah yang terus berjalan-melangkah. Ini mengubah cara pikir kita berkenaan dengan perjalanan kita mencari Allah. Kita tidak lagi berpikir bahwa pada akhir perjalanan kita, kita akan mencapai tujuan pencaharian kita akan Allah. Kita tidak lagi membayangkan bahwa pada ujung perjalanan ini kita akan menemukan Allah. Tidak. Tidaklah demikian. Allah tidak dijumpai pada akhir perjalanan. Allah ditemukan bahkan di tengah perjalanan panggilan kita. St Katarina dari Siena barangkali menggambarkan dengan baik realitas ini ketika dia berkata All the way to God is God (Semua jalan menuju Allah adalah Allah). Jadi, dalam meditasi kita tetaplah peziarah yang berjalan-melangkah.

Karena itu yang paling penting dalam meditasi adalah age quod agis. Lakukan saja dengan baik apa yang sedang anda lakukan saat ini yaitu bermeditasi, berjalan dan mencari. Dan ini tentulah masalah mindfulness – hidup hic et nunc – masalah attentiveness! tanpa mempertanyakan "sesudah ini apa?" (bdk dialog John Main dengan Guru Hindunya, Swami Satyananda).

Dalam bukunya "Inner Christ" Pater John Main melukiskan disiplin meditasi itu sebagai berikut:

"Duduklah. Duduklah dengan tenang dan punggung tegak. Tutuplah mata anda dengan perlahan-lahan. Duduklah dengan rileks tetapi dalam sikap berjaga-jaga. Lalu dengan tenang, secara batin, ucapkanlah kata doa anda. Kami menganjurkan kata-doa maranatha. Ucapkanlah kata-doa itu dalam empat suku kata dengan tekanan yang sama. Dengarkan kata doa itu ketika engkau mengucapkannya – dengan perlahan-lahan dan terus-menerus. Jangan memikirkan atau membayangkan sesuatu apapun juga – entah sesuatu yang rohani atau hal lainnya. Jika pikiran atau gambaran muncul, ada gangguan-gangguan pada waktu meditasi anda, dengan tenang kembalilah mengucapkan kata-doa anda. Bermeditasilah setiap pagi dan malam selama duapuluh hingga tigapuluh menit!" (Inner Christ, London: Darton Longman and Todd, 1987 bab V).

"Nasihat saya untuk anda ialah: dalam meditasi harian anda, mulailah dengan periode minimum 20 menit. Kalau anda sudah dapat menjalankan periode 20 menit dengan baik, barulah anda mencoba bergerak ke arah periode waktu yang ideal: 30 menit. Ambillah waktu yang sama setiap hari: 20, 25 atau 30 menit. Hanya memang kita sering tergoda: kalau merasa enak, kita memperpanjangnya, dan kalau terasa tidak enak, kita berusaha memperpendeknya. Namun kita diminta untuk berdisiplin dengan periode waktu kita. Disiplin dalam meditasi merupakan aturan yang amat penting!

Jika anda belajar bermeditasi, sangatlah penting bahwa anda bermeditasi setiap hari, setiap hari dalam hidupmu: pagi dan malam. Anda diminta untuk melakukan hal ini. Karena memang tidak ada jalan pintas dalam meditasi itu. Tidak ada jalan pintas dalam hidup rohani. Tidak ada jalan pintas dalam mistik Kristiani kita. Semuanya berjalan secara perlahan, sedikit demi sedikit. Walau demikian, anda akan diubah secara perlahan olehnya. Hati anda akan diubahnya!

Jika anda bermeditasi, anda harus belajar diam. Dan itu adalah sebuah disiplin: disiplin duduk diam dan menjadi hening. Tubuh yang diam adalah ungkapan dari hati yang tenang; sebuah ketenangan yang lahir dari disiplin mengucapkan mantra dalam peziarahan hidup kita".

Dari disiplin-displin latihan meditasi di atas, saya mencoba merangkumnya menjadi dua disiplin utama dalam latihan meditasi yaitu disiplin keheningan dan disiplin komunitas.

Disiplin keheningan. Disiplin ini sangatlah penting karena tidaklah mungkin orang menghayati hidup rohani, hidup doa dan meditasi tanpa ada keheningan. Karena itu John Main berkata:

"Untuk bermeditasi, kita mesti belajar duduk diam, karena meditasi itu menyangkut ketenangan jiwa dan raga yang sempurna. Dalam ketenangan dan keheningan itulah kita membuka hati kepada keheningan abadi Allah..... Jadi, hal pertama dalam meditasi adalah belajar duduk diam. Duduk-diam! Inilah sikap seorang murid. Dengan ini kita mengerti bahwa meditasi itu melibatkan kedisiplinan. Dan disiplin pertama adalah belajar duduk-diam (Hunger for Depth and Meaning)

Setelah kita dapat duduk-diam, duduk dengan tenang, kita lalu mulai mengucapkan mantra kita. Pengucapan mantra merupakan disiplin lain yang harus dipegang karena ketenangan dan keheningan hanya mungkin kalau kita dapat mengucapkan mantra kita dengan tekun dan setia, dengan penuh perhatian.

Pengucapan mantra membantu kita menerobos kekacauan pikiran dan perasaan yang akan langsung mengganggu kita setelah kita duduk-diam. Mantra yang kita ucapkan bagaikan radar yang membatu mengarahkan pesawat pikiran kita di tengah kabut pikiran yang mengganggu kita.

Kalau kita dapat mencapai ketenangan dan keheningan batin, maka hati kita akan menjadi sebuah ruangan sunyi dimana Allah dapat tinggal, kemanapun kita pergi dan apapun yang kita kerjakan nantinya. Dalam kata-kata John Main, dalam ketenangan dan keheningan itu mantra berakar di dalam hati dan lalu bergema dan ia memenuhi hati dan hidup kita dengan gemanya sehingga kita terbantu "terarah" kepada Allah yang tergemakan lewat mantra kita itu. Di sini mantra lalu menjadi sungguh-sungguh sebuah sakramen yang mengarahkan hati kita kepada kehadiran Allah dalam segala kesibukan kerja kita setiap hari.

Mantra yang diucapkan terus-menerus pagi dan sore, yang diucapkan dengan tekun, setia dan iman, akan membantu kita tetap konsentrasi sepanjang periode meditasi kita. Selain itu, ia akan tertanam dan berakar di dalam hati kita dan kemudian memberikan gemanya. Bila kita sudah bisa mendengarkan gema mantra itu kita baru sungguh-sungguh bermeditasi.

Mantra yang bergema akan bergema kapan dan dimanapun entah pada saat kita bermeditasi, entah pada saat kita beraktivitas. Bila itu yang terjadi, kita sampai pada tahap yang disebut Thomas Merton sebagai "kontemplasi tersamar" dimana kita melakukan aktivitas tetapi hati kita tetap tenang dan terarah kepada kehadiran Tuhan yang tergemakan lewat gema mantra kita. Dengan pengalaman ini kita telah melakukan meditasi di tengah kesibukan kita. Atau dengan kata lain, meditasi telah mewarnai kesibukan dan aktivitas kita. Kita hidup senantiasa di hadirat Allah.

Dengan demikian, disiplin keheningan, yang berawal dari duduk-diam, lalu hati hening, tenang dan damai oleh karena pengucapan mantra, akan berakhir pada hidup di hadirat Allah kapan dan dimanapun berkat gema mantra yang selalu mengingatkan kita akan kehadiran Allah dalam hati dan hidup kita.



Disiplin Komunitas. Secara tegas dan jelas John Main merumuskan disiplin komunitas dalam kata-katanya yang visioner dan kenabian untuk zaman kita ini: "Pengalaman kontemplatif menciptakan komunitas". Kata-kata ini menunjukkan kaitan yang sangat erat disiplin hidup komunitas dan disiplin keheningan. Kalau orang hening, orang menciptakan ruang kosong bagi Allah di dalam dirinya. Dan pengalaman itu akan saling bergemakan dengan orang-orang lain dengan pengalaman yang sama dalam komunitas. Maka "keheningan" akan menyatukan orang-orang dalam komunitas dan mengarahkannya kepada satu titik tuju yang sama: kehadiran Allah. Dengan kata lain, Allah atau kehadiran Allah di dalam hati kita akan menjadi dasar bersama semua individu manusia. Sebuah dasar yang menyatukan kita sebagai sebuah komunitas. Dasar yang mengatasi setiap perbedaan yang ada. (bdk Bede Griffiths, Meditasi dan Ciptaan Baru dalam Kristus, bab I, hal 15)

Selain itu disiplin komunitas menandaskan bahwa perjalanan rohani bukan hanya sebuah perjalanan personal tetapi terutama sebuah perjalanan bersama, perjalanan komuniter. Nampaknya terlalu berat bagi kita untuk melakukan perjalanan rohani ini sendiri-sendiri. Komunitas akan membantu meneguhkan dan memberikan animasi yang kita butuhkan tatkala perjalanan kita menjadi seret. Dalam komunitas, dalam keheningan bersama, kekuatan untuk "bangun dan meneruskan perjalanan" kita terima.

Komunitas ini juga akan menjadi sebuah komunitas iman sebagaimana komunitas awali di Yerusalem. Wiliam Johnston, SJ menjelaskan dengan baik meditasi bersama dalam komunitas dalam bukunya "Inner Eye of Love":

"Bila kita dapat duduk bersama sambil bermeditasi hening, tanpa kata, maka dalam situasi seperti itu kita dapat mengalami tidak hanya keheningan dalam hati kita, tetapi keheningan seluruh kelompok. Kadangkala keheningan itu begitu dirasakan dan dapat menyatukan orang pada tingkat yang lebih dalam daripada kata-kata apapun jua".

Catatan: Disiplin keheningan membuka "ruang batin" di dalam diriku bagi Allah. Disiplin komunitas adalah disiplin "saling menggemakan" kehadiran Allah di dalam relung terdalam hatiku. Ini aspek pelayanan dari disiplin keheningan. Dan bagi orang yang hatinya "hening", ia bisa menikmati hidup "berkomunitas" karena Allah di dalam hati mengenal Allah di dalam komunitas.




Berita & Foto Lainnya:







YOUTUBE: