Home
Daily Wisdom
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
> > Bandung
> > Bogor
> > Jakarta
> > Malang
> > Surabaya
> > Yogyakarta
> > Surakarta
> > Semarang
> > Purwokerto
> > Medan
> > Sibolga
> > Padang
> > Samarinda
> > Pontianak
> > Makassar
> > Maumere
> > Denpasar
> > Mataram
> > Ruteng (Borong)
> > Ende
> > Tanjung Pinang
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami













Links:
Bahasa Indonesia
* Meditasi Kristiani Anak

Bahasa Inggris
* WCCM
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests










Berita & Foto:

Rekoleksi Meditasi dalam Tradisi Kristiani (Gereja Santo Yakobus, Kelapa Gading)

Enam Agustus 2011, jam di dinding ruang Teresa Avilla lantai 2 Paroki St Yakobus Kelapa Gading, menunjukkan angka 09.35, ketika para peserta rekoleksi mulai memasuki ruangan. Ruangan dengan kapasitas 150 orang itu akhirnya hampir penuh ketika acara sudah berjalan sekitar 15 menit. Mungkin bukan suatu kebetulan kalau rekoleksi Meditasi Kristiani kali ini diadakan di ruang Teresa Avilla, karena St Teresa Avila adalah Santa yang sangat mencintai doa hening.

Dalam kata sambutannya, Romo Antonius Gunardi MSF menyatakan kegembiraannya dengan banyaknya kegiatan rohani mencari Allah di paroki, mulai dari Lectio Divina, Taize, Ancilla Domini, Meditasi Kristiani dan lain lainnya. Khusus untuk Meditasi Kristiani, Romo Anton mengatakan bahwa Meditasi Kristiani ini tidak ramai dipromosikan tetapi secara pelan-pelan membentuk komunitas yang mandiri di Kelapa Gading. Romo Anton juga menyebutkan bahwa rekoleksi meditasi Kristiani pada hari ini sejalan dengan tema Perayaan Ekaristi minggu ini: " Tenanglah ! Akulah ini, jangan takut" (Mat 14:27).



Pada sesi pertama, Romo Tan Thian Sing MSF , yang datang dari Salatiga, sebuah kota sejuk dikaki Gunung Merbabu , menguraikan tentang meditasi dalam tradisi Kristiani. Tradisi meditasi ini telah dilakukan oleh rahib-rahib Kristen di gurun pasir, pada awal keKristenan , sekitar abad ke 3,4 dan 5. Romo Sing menyebut beberapa nama rahib2 antara lain Santo Antonius, Abba Ishak dan Yohanes Kasianus.



Tulisan Yohanes Kasianus dalam buku "Konperensi" telah dibaca dan dihayati oleh Pater John Main, dimana para rahib melakukan dan mengajar doa yang terdiri dari satu-kata saja. Disinilah Pater John Main menemukan kembali doa hening yang sesungguhnya berakar dalam tradisi Kristiani. Romo Sing menyatakan, bahwa bagi peserta yang telah terbiasa dengan doa Yesus, di persilahkan untuk terus menggunakannya. Sedangkan untuk peserta rekoleksi yang belum mempunyai kata doa untuk dipakai dalam doa hening, Romo Sing mengusulkan untuk memakai kata " Maranatha", sebuah kata yang berasal dari bahasa Aram. Bahasa yang digunakan oleh Yesus dan artinya "Datanglah Tuhan " atau "Tuhan kita datang ". Kata ini ditemukan dalam surat pertama rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 16:22). Kata2 dalam bahasa Aram lainnya yang pernah diucapkan oleh Yesus antara lain adalah :"Talita Kum " (Mrk 5:41) dan "Eloi, Eloi lama Sabakhtani" (Mrk 15:34 dan Mat 27:46).

Ketika membahas roda doa, Romo Sing mengatakan bahwa semua doa-doa diskursif , diumpamakan bagaikan jari jari roda, adalah doa yang menggunakan akal budi seperti Lectio Divina dan lain-lainnya, semuanya baik. Sedangkan doa Hening dalam meditasi Kristiani adalah doa hati untuk masuk kedalam keheningan, ke dalam hadirat Allah, bagaikan poros roda yang diam. Dengan melakukan Doa Hening maka kita memasuki doa dalam tiga dimensi. Kita mengikutkan hati kita dalam memenuhi kerinduan kita untuk dekat dengan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Kita dapat melakukan Doa Akal budi dan Doa Hati, tetapi tentunya pada waktu yang berlainan.

Menurut Romo Sing, jurus Meditasi Kristiani yang utama adalah " Mulai bermeditasi dan terus bermeditasi ". Meditasi adalah pengalaman atau praktek, walaupun kita sudah membaca banyak buku maupun sering menghadiri acara atau seminar meditasi, tetapi percuma saja bila tidak melakukan meditasinya sendiri.

Meditasi Kristiani adalah doa pribadi, kita hening dalam kesendirian. Tetapi kita perlu komunitas untuk saling berbagi, belajar bersama, makin terbuka dan bersaudara , serta saling meneguhkan dan bersatu dengan seluruh kesatuan gereja, tidak terpisah dengan saudara-saudara kita seiman. Ketika menyinggung komunitas meditasi kristiani, Romo Sing mengatakan bahwa komunitas Meditasi Kristiani tidak berupa organisasi formal dalam kegiatannya, tetapi lebih merupakan komunitas atau kumpulan orang-orang yang melakukan meditasi dan mendapatkan kepenuhan ataupun berkat-berkat dari buah buah meditasi. Orang-orang yang merasa memperoleh berkat dari Tuhan ini, ingin agar orang-orang lain juga mengalami hal yang sama dengan mereka. Mereka bergotong royong secara sukarela menyebarkan Meditasi Kristiani kepada orang orang lain.

Ajaran pokok keKristenan adalah " Allah mencintai kita" dimana Allah selalu memaafkan kita. Menanggapi cinta Tuhan yang kita alami , kita perlu memberikan perhatian kepada Tuhan. Kita melakukan doa hening dengan mengulang-ulangi kata suci seperti "Maranatha", datanglah Tuhan, untuk menikmati, mensyukuri dan menghayati kesatuan dengan Tuhan. Atensi ataupun cinta kita kepada Tuhan ini harus dinyatakan juga ketika berdoa " Bapa kami", dimana kita menghayati secara penuh ketika kita mengucapkan antara lain ; " Datanglah kerajaanMu" dan "Jadilah kehendakmu ". Kita tidak mengucapkan kata kata doa kita hanya sebagai hafalan belaka, tetapi benar benar dengan penuh penghayatan.

Pada sesi kedua, para peserta diajak untuk bermeditasi bersama, dimana sebelumnya Bapak Suprapto memberikan penjelasan mengenai tata cara bermeditasi. Dimana antara lain diuraikan 3 prinsip Meditasi Kristiani yaitu 3S ( Still=Diam, Silence=hening dan Simple=sederhana).

Ruangan yang tadinya meriah dengan gelak tawa peserta, karena dalam pengajarannya Romo Sing gemar menyelipkan anekdot-anekdot yang kocak, menjadi hening ketika para peserta mulai bermeditasi dibimbing oleh Romo Tan Thian Sing.



Untuk awal dan akhir meditasi di perdengarkan musik instrumentalia dari Margaret Rizza, seorang meditator dari Inggris. Setelah 30 menit bermeditasi bersama, dilanjutkan dengan acara tanya jawab dan sharing.
Dalam acara tanya jawab , antara lain terungkap bahwa kita dapat membuka hati kita kepada Tuhan atau "menemui " Tuhan , dengan cara menerima cinta Tuhan. Kita menaruh perhatian/atensi secara penuh menyapa Tuhan. Kita mempersembahkan 20/30 menit yang kita punyai kepada Tuhan secara penuh totalitas, kita melupakan semua hal dan hanya berpusat kepada Tuhan.
Dalam bermeditasi kristiani, kita cukup melakukannya secara disiplin dua kali sehari selama 20 sampai 30 menit tiap kalinya. Menurut Romo Sing, kita tidak perlu bermeditasi lebih dari 30 menit , karena tidak menambah arti meditasi kita, disamping kita harus hidup seimbang seperti halnya Marta dan Maria, yang hidup aktif dan kontemplatif, tidak melulu aktif saja ataupun hanya bermeditasi saja.
Romo Sing menjabarkan, bahwa dalam meditasi, kita memperhatikan teknik walaupun hanya sedikit, yaitu bagaimana membuat tubuh kita diam, dengan punggung lurus. Tetapi tujuan utama adalah menghayati dan merasakan kehadiran Tuhan, seperti di diutarakan di Injil :" Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, " (Mat 6: 33)
Para peserta masih antusias untuk bertanya, tetapi sayang waktu tidak mengijinkan dan rekoleksi di akhiri pada jam 12.30.

(Edhi Siswoyo-Kelompok Meditasi Santo Yakobus, Kelapa Gading)




Berita & Foto Lainnya:







YOUTUBE: