Home
Renungan Prapaskah 2017
Bacaan Harian Bersama John Main
Daily Wisdom
Weekly Teaching
Newsletter
Renungan Bacaan Injil
Bahan Pengajaran
> > Bahasa Indonesia
> > Bahasa Inggris
Cara Bermeditasi
Pokok Pengajaran
Oblat WCCM
Kerabat Meditator


Acara Khusus
Jadwal Pertemuan
Kolom Tanya Jawab
Berita & Foto
Sharing
Kepustakaan
Tentang Kami
Hubungi Kami















Links:
Bahasa Indonesia
* Meditasi Kristiani Anak

Bahasa Inggris
* WCCM
* School of Meditation
* Christian Meditation for Priests










MEDITASI DALAM TRADISI KRISTIANI

"Apakah Meditasi Kristiani sesuai dengan ajaran Kristiani ?", pertanyaan ini sering menghantui pikiran teman-teman yang baru mengenal Meditasi Kristiani.

Steve Jobs, pendiri Apple Computer yang monumental , ketika masih muda di tahun 1974 pergi ke India , berkeliling dari desa kedesa selama 7 bulan melakukan perjalanan spiritual ,dengan tujuan mencari pencerahan . Steve penganut Buddha- Zen, tetapi sebelumnya mulai sekitar tahun enam puluhan , ribuan orang2 muda dari segala penjuru dunia , banyak diantaranya dari latar belakang kekristenan, sudah pergi ke Timur (i.e. India) juga, untuk mencari pengalaman spiritual antara lain untuk memperoleh ketenangan jiwa maupun mengobati luka luka batinnya. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang buruk, karena banyak orang yang memperoleh manfaat dengan pencarian seperti itu. Namun yang mengherankan adalah ; pencerahan yang dicari jauh jauh itu sebetulnya sudah ada di tradisi kekristenan sendiri. Bagi Pater Thomas Keating, seorang imam Trappist, terusik hati kecilnya dan bertanya tanya :" Mengapa ratusan orang muda selalu pergi ke India setiap musim panas untuk mencari bentuk-bentuk spiritualitas, padahal ada banyak biara kontemplatif di negerinya sendiri ?" .

Referensi mengenai meditasi atau kontemplasi yang paling awal dapat diketemukan pada Injil, adalah di Perjanjian Lama, Yosua 1:8, " Jangan lah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini,TETAPI RENUNGKANLAH ITU SIANG DAN MALAM, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung". Yosua hidup disekitar tahun 1500 -1390 sebelum Masehi, dengan demikian referensi kontemplasi tersebut sudah ada di tradisi Kristiani sekitar abad 14 sebelum Masehi.

Pada sekitar abad 15 sebelum Masehi, referensi meditasi dapat dijumpai pada kitab Hindu Veda. Kemudian sekitar abad 6 sampai 5 sebelum Masehi, meditasi juga ditemukan dalam tradisi Tao di Cina dan Buddha di India.

Pada awalnya, sekitar abad ke tiga Masehi, banyak pengikut pengikut Yesus yang pergi ke padang gurun dan kemudian tinggal disana untuk mencari inspirasi, petunjuk dan pencerahan . Salah satu Rahib atau Bapa padang gurun yang termashur adalah Anthony the Great atau Antoni yang Agung. Bapa Antoni pindah ke gurun pasir pada sekitar tahun 270-271 dan kemudian terkenal sebagai Bapa dan pendiri Biara padang gurun.

Setelah Bapa Antoni meninggal dunia pada tahun 356, ribuan Rahib mengikuti jejak Antoni dan tinggal di padang gurun. Menurut ceritera, Bapa Antoni tergerak untuk hidup menyepi di padang gurun setelah dia mendengar kotbah yang membahas Matius 19:21 ," Kata Yesus kepadanya:" Jikalau engkau hendak sempurna , pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang orang miskin, maka engkau akan beroleh harta disorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku". Bapa Antoni yang Agung melepaskan semuanya , dan baginya "Allah saja cukup", lalu pergi untuk hidup dan menyepi di padang gurun. Pengikut-pengikut Yesus ini memilih keheningan, berpuasa dan berkontemplasi disamping menjadi pembimbing rohani yang canggih. Sepuluh tahun kemudian setelah Bapa Antoni pergi kepadang gurun, Konstantine I mengumumkan bahwa agama Kristen adalah legal di Mesir, sehingga umat Kristiani dapat merasa aman hidup di kota lagi. Tetapi kehidupan padang gurun yang keras, sunyi dan penuh pengorbanan telah menjadi salah satu pilihan bagi Antoni dan umat Kristen lainnya, untuk menghayati kebersamaan dengan Tuhan.

Sedangkan dalam Perjanjian Baru, perihal kontemplasi juga banyak disinggung, misalnya pada Injil Lukas 5:16, " Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat tempat yang sunyi dan berdoa", Lukas 6:12, " Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah", Matius 14:23, "Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik keatas bukit untuk berdoa seorang diri, ketika hari sudah malam, Ia sendirian disitu ", dan Markus 1:35," Pagi pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar. Ia pergi ketempat sunyi dan berdoa disana" dan satu lagi yang juga menyebutkan cara kontemplasi adalah Matius 6:6, " Tetapi jika engkau berdoa, masuklah kedalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu".

Lalu mengapa ?. Kalau dalam tradisi Kristiani, meditasi sudah dikenal berabad-abad yang lalu, tetapi justru meditasi lebih diyakini berasal dari Timur (a.l. India , Cina, Jepang ) ? . Hal ini mungkin dikarenakan, meditasi dalam tradisi Kristiani lebih banyak dilakukan dalam lingkungan biara-biara saja, tertutup bagi para rahib saja. Tradisi kontemplasi atau meditasi ini tidak terbuka untuk lingkungan di luar biara. Dengan demikian umat Kristiani mempunyai pandangan bahwa meditasi hanyalah untuk para rahib di biara saja. Sedangkan ditahun tahun enam puluhan banyak pemuka pemuka agama Hindu dan Buddha yang datang ke Barat untuk mengajar meditasi kepada masyarakat umum, dimana mereka dapat datang untuk memperoleh ketenangan batin dan kedamaian atau pengalaman spiritual yang selama ini tidak diperolehnya dari agama yang dianutnya.

Adalah Pater John Main OSB ( 1926-1982 ), salah satu Rahib yang menemukan kembali meditasi menurut tradisi Kristiani dan membawanya ke luar tembok tembok biara (monastery without walls). John Main lahir di London pada tahun 1926 dari suatu keluarga Katolik. Ketika bekerja di Departemen Luar Negeri , dia ditugaskan di Malaysia. Suatu waktu dia ditugaskan untuk mengunjungi sebuah panti asuhan di Kualalumpur, yang dikelola oleh seorang Pandita Hindu keturunan India. Dari pandita ini, John Main belajar bermeditasi dengan cara mengulang-ulang sebuah mantra. Hal ini dikemudian hari menimbulkan salah pengertian bagi sebagian orang yang menganggap bahwa cara meditasi yang diajarkan oleh Pater John Main tidak Kristiani.

Setelah John Main kembali ke Eropa, dia kemudian menjadi Rahib Benediktin pada sebuah biara di London. Di biaranya , John Main dilarang bermeditasi oleh Pembimbing Rohani Novis nya, karena dianggap bukan suatu cara berdoa Kristiani. Dengan berat hati, John Main patuh dengan melepaskan latihan meditasi yang diikutinya selama ini. Dikemudian hari, John Main menganggap bahwa larangan pembimbing rohaninya merupakan berkat baginya, karena dengan demikian dia dia diajarkan untuk dapat melepaskan ego-nya, melepaskan sesuatu yang sangat berharga baginya. Bertahun tahun kemudian, John Main ditugaskan untuk menjadi kepala sekolah di Washington DC. Ketika suatu waktu, seorang anak muda datang kepadanya minta nasihat untuk mengatasi kesukaran hidupnya, John Main menganjurkan anak muda tersebut untuk membaca buku berjudul Holy Wisdom, karangan Pater Agustinus Baker, seorang Benediktin kontemplatif abad ke 17. Melihat antusias anak muda itu dalam membaca buku tersebut, Pater John Main tergerak untuk membaca kembali buku klasik itu. Setelah itu Pater John Main kembali bermeditasi lagi.

Sekembalinya John Main ke London, dia terus mencari dan menggali apakah bentuk doa berupa meditasi ini mempunyai akarnya dalam tradisi Kristiani. Akhirnya dari tulisan Rahib Yohanes Kasianus pada abad ke 4, berjudul "Konferensi-konferensi " , John Main menemukan doa hening satu kata ,yang mirip dengan apa yang pernah dipelajarinya dari pandita Hindu sebelum dia menjadi Rahib Benediktin. Kasianus menyebut doa hening satu katanya sebagai formula. Formula atau doa satu kata yang favorit adalah " doa Yesus" disamping doa " Tuhan tolonglah saya ". Pada awal awal abad , doa kontemplatif tersebut pertama kali dipraktekkan dan diajarkan oleh Bapa Bapa padang gurun di Mesir, Palestina dan Siria. Doa kontemplatif makin berkembang dengan terbitnya tulisan berjudul " The Cloud of Unknowing " pada abad ke empat belas, dimana sampai sekarang pengarangnya tetap anonim.

Pater John Main menganjurkan kata " Maranatha " sebagai mantra, yang artinya adalah "Tuhan datanglah " 1 Kor 16:22. Fungsi pokok dari formula atau mantra atau kata suci tersebut bukan untuk menekan ataupun menenangkan pikiran yang muncul, melainkan untuk menyatakan intensi untuk mengasihi Allah, menghayati kehadiran-Nya dan berserah kepada Roh Kudus selama meditasi.

Dengan demikian, Meditasi Kristiani menurut Pater John Main bermula dari iman kita kepada Yesus Kristus dan diakhiri dengan kasih, keduanya ini tercermin dalam doa pembukaan sebelum kita melakukan meditasi, yang berbunyi sebagai berikut: "Bapak didalam surga, bukalah hati kami akan keheningan hadirat Roh Putra-Mu, bimbinglah kami kepada misteri keheningan illahi dimana rahmat kasih-Mu memancar kepada setiap orang yang merindukannya ".

Dengan demikian dapat dipahami bahwa ajaran meditasi dari seorang pandita Hindu kepada John Main ( plus buku Holy Wisdom) hanya merupakan pemicu yang mendorong John Main untuk menemukan akar meditasi dalam tradisi Kristiani. Iman kitalah yang membuat meditasi ini kristiani, dimana kita percaya akan Yesus yang menjadi manusia, telah wafat dan dibangkitkan dan kini tinggal dalam hati kita ( "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" Mat 28:20 ).

Pater John Main mulai membuka Komunitas Meditasi Kristiani yang pertama pada tahun 1975. Setelah Pater John Main meninggal, pengembangan pengajaran tentang Meditasi Kristiani diteruskan oleh muridnya, Rahib Laurence Freeman, OSB yang membentuk WCCM (World Community for Christian Meditation) pada tahun 1992 atas usulan dari Rahib Bede Griffiths (1906 - 1993). Saat ini, Komunitas Meditasi Kristiani sudah hadir di kurang lebih dari 100 negara dan di Indonesia sendiri telah terbentuk sekitar 100 kelompok yang berkumpul dan bermeditasi bersama seminggu sekali.

Referensi : bahan-bahan seminar Komunitas Meditasi Kristiani, Buku Intim bersama Allah, Buku Meditasi bersama Yesus, Latihan Harian Meditasi Kristiani.

Disarikan oleh Pak Edhi Siswoyo dari Kelompok Meditasi Gereja St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta



KELOMPOK MEDITASI KRISTIANI

  • Banyak orang merasa sangat terbantu bila mereka bergabung dalam salah satu kelompok meditasi. Beberapa orang merasa dapat bermeditasi dengan lebih baik bila berada bersama orang lain. Menurut saya masih ada beberapa keuntungan lain bila bergabung dalam sebuah kelompok. Tersedianya buku-buku, CD dan sumber-sumber lain yang dapat dipakai bersama. Yang lebih penting lagi adalah saling berbagi pengalaman, terutama pengalaman 'gagal'. Kita tidak perlu 'sukses' dalam bermeditasi, dalam arti bahwa kita dapat 'bebas dari pelanturan' yang secara alami masuk ke dalam pikiran kita. Kita hanya diminta untuk tetap setia dan setiap kali kembali mengucapkan kata-doa kita. Dengan mendengarkan perjuangan orang lain, kita diyakinkan bahwa perjuangan kita sama dengan orang lain dan kita tidak boleh putus asa hanya karena kita tampaknya tidak memperoleh apa-apa.

  • Kebanyakan kelompok meditasi memulai pertemuan mingguan dengan mendengarkan ajaran pokok meditasi, kemudian dilanjutkan dengan meditasi dan pertemuan diakhiri dengan atau tanpa sharing atau diskusi. Dalam kelompok-kelompok yang saya bimbing, kita mempunyai tiga tahapan. Menurut saya, tiga tahapan ini sangat penting.

  • Membahas Kitab Suci Bersama

    Biasanya kita mulai dengan saling berbagi pengalaman tentang bagaimana bacaan Injil hari Minggu itu telah menyentuh hidup kita. Bagi kebanyakan orang, Allah ada "diatas sana" di surga dan di dalam kepala kita. Dengan saling berbagi pengalaman sejauh mana bacaan Injil itu telah menyentuh kehidupan kita sehari-hari, maka kita menarik Allah dari surga ke dalam dunia sekitar kita. Saya menganjurkan agar kelompok meditasi sebaiknya bergabung dengan doa Gereja dengan mengikuti bacaan Injil tahun liturgi. Setelah membahas Injil bersama dan kemudian masuk dalam keheningan, maka perayaan Ekaristi pada Minggu itu akan menjadi lebih kaya.

    Untuk tahap ini kita akan mengambil ceritera orang Majus dari Injil Matius 2 :1-12 sebagai contoh:

    "Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea, pada zaman Raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia. "Ketika Raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, dimana Mesias akan dilahirkan. "Di Bethlehem di tanah Yudea karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Bethlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda; karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel."

    Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Bethlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu. Dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, dimana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan kerena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

  • Cara Bermeditasi Yang Benar

    Disini kita hadir bersama Roh yang tinggal dalam hati kita.

    Menurut Pater John Main beginilah cara bermeditasi:

    "Anda hanya duduk diam dengan punggung tegak. Tutup mata anda perlahan-lahan. Duduk dengan nyaman tetapi sadar penuh. Secara hening, dalam batin mulailah mengucapkan kata-doa anda. Kita menganjurkan kata-doa 'MARANATHA'. Ucapkan sebagai empat suku kata yang sama panjangnya. Dengarkan kata doa itu sewaktu anda mengucapkannya perlahan-lahan dan terus menerus di dalam hati. Jangan berpikir atau membayangkan sesuatu - baik yang rohaniah ataupun yang lain. Pikiran dan imajinasi akan datang, tetapi biarlah semuanya berlalu. Alihkan kembali perhatian anda - dengan rendah hati dan kesederhanaan - dengan mengucapkan kembali kata-doa anda, dari permulaan sampai akhir meditasi anda. Bermeditasi tiap pagi dan sore selama 20 sampai 30 menit."

  • Saling Berbagi Pengalaman

    Di dalam kelompok kita bisa mendengar berbagai pengalaman, masalah dan informasi yang salah yang mungkin ada diantara para meditator. Berbagi pengalaman bukanlah waktu untuk mencari pemecahan masalah walaupun beberapa masalah dibagikan pada pertemuan itu. Ini adalah waktu untuk berbagi pengalaman dalam bermeditasi. Dengan mendengarkan perjuangan orang lain, kita diteguhkan untuk 'terus berjalan,' seperti yang dikatakan Pater John Main. Kita akan melewati dua masalah besar untuk para meditator:

    1. Keinginan untuk sukses dalam arti kata tidak mempunyai pelanturan lagi
    2. Keinginan untuk mendapatkan pengalaman rohani yang luar biasa.

    Seringkali amat sukar untuk menemukan seorang pembimbing rohani yang baik, terutama seorang yang mengerti tentang doa hening. Seringkali dalam kelompok kita saling memberikan bimbingan rohani satu sama lain. Berbagi pengalaman di dalam kelompok dapat membantu seseorang untuk memahami pengalamannya sendiri dan kelompok seringkali dapat memberikan dukungan bila diperlukan.

(oleh: Pater Gerry Pierse CSsR)



Introduksi Meditasi Kristiani
(Oleh: Pastor Cyprianus Verbeek O Carm)

Para Saudara yang terkasih,

Saya diminta untuk memperkenalkan Meditasi Kristiani kepada para pembaca sekalian. Pastor Laurence OSB adalah pimpinan dari World Community for Christian Meditation yang berkantor pusat di Inggeris. Ia menjadi penerus Pastor John Main OSB, seorang rahib Benediktin yang tahun ini kita memperingati 25 tahun wafatnya.

Pastor John Main memperkenalkan kembali suatu cara berdoa yang sudah lama dilupakan dan tak dilakukan lagi. Awalnya ia mengenal meditasi ketika ia (masih sebagai seorang awam) bekerja di perwakilan Inggeris di Kualalumpur. Ia belajar meditasi dari seorang pandita Hindu. Tetapi kemudian ia menemukan bahwa cara sederhana itu sebenarnya sudah dikenal oleh bapa-bapa padang gurun pada abad keempat. Saya hanya membuka jalan bagi Pastor Laurence Freeman untuk memperkenalkan Meditasi Kristiani di Indonesia.

Anda membaca tulisan ini karena anda tertarik entah oleh apa. Mungkin kata "meditasi" sendiri mempunyai daya tarik besar. Tetapi kalau saya bertanya kepada anda, apa yang anda bayangkan atau pikirkan bila mendengar kata "meditasi"? Mungkin anda tidak dapat dengan pasti memberikan jawaban. Atau kalau saya bertanya: Apa yang anda harapkan dari "meditasi", mungkin akan ada sejumlah jawaban yang berbeda-beda. Barangkali tepat, barangkali tidak.

Jelaslah bahwa anda membaca tulisan ini karena suatu "keinginan" "kerinduan". Bagi saya itu titik-tolak yang baik untuk sedikit berbicara tentang meditasi. Kita sudah biasa berdoa kepada Allah, ada doa pujian, ada doa permohonan dan banyak jenis lain yang kita kenal. Bila anda meng-gunakan salahsatu jenis doa, pasti dalam hati anda ada suatu kerinduan. Apa yang anda rindukan? Mungkin agar permohonan tertentu dikabulkan!

Tetapi di dalam lubuk hati kita semua ada suatu kerinduan mendasar. Sering kurang disadari, dan dari kerinduan mendasar itu timbul segala jenis keinginan yang baik. Kita ingin menjadi bahagia. Sumber kebahagiaan sejati ialah Tuhan sendiri. Oleh karena itu kerinduan akan Allah adalah yang paling mendasar dalam diri kita. Tetapi kita kurang menyadarinya. Maka kita perlu menjadi semakin sadar dan yakin bahwa sebenarnya Allah yang paling kita rindukan. Biasanya kita mengharapkan sesuatu dari Allah, tetapi barangkali jarang merindukan Allah sendiri. Tujuan utama dari meditasi sejati ialah menyadarkan lalu meningkatkan kerinduan akan Allah.

Ada banyak latihan rohani yang diberi nama "meditasi" baik di kalangan Katolik maupun di agama lain. Mereka menyediakan suatu cara untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya dalam meditasi diskursif kita merenungkan pokok-pokok ajaran Injil agar menjadi pegangan dalam hidup kita. Misalnya "jangan menghakimi" dapat kita renungkan hingga kita benar-benar yakin bahwa jalan ini amat baik dan berguna. Kita lalu mau menjadi orang yang tidak menghakimi sesama. Kita mengusahakan suatu perubahan dalam sikap hati kita.

Tetapi ada meditasi lain seperti Meditasi Kristiani lebih mirip dengan sikap Bartimeus, orang buta yang duduk mengemis di pinggir jalan menuju Yerikho. Ia boleh memikiran dan mengkhayalkan suatu masa depan baru kalau saja dia bisa melihat kembali. Tetapi itu tidak mengubah sedikitpun situasinya: ia buta dan tetap buta. Ia hanya duduk, menunggu dan merindukan. Baru ketika ketemu Yesus melalui doa yang ia teriakan, ia disembuhkan oleh Yesus. Ia melihat orang di depannya, ia melihat Yesus.

Pastor John Main menemukan dalam karangan seorang penulis abad kelima, bernama Yohanes Kasianus, metode yang dipakai oleh para rahib di padang gurun. Mereka itu seringkali orang kurang terpelajar dan sangat sederhana Dalam hati mereka hanya ada suatu keinginan: Allah. Maka mereka mengulangi suatu doa yang singkat, diambil dari mazmur atau teks kitab suci lain. Sepanjang hari mereka mengulangi doa yang sama yaitu waktu mereka berdoa, makan maupun kerja. Bukan untuk dipikirkan, melainkan untuk meng-ARAH-kan kerinduan hati dan perhatian budi mereka kepada Allah. Mungkin cara ini tak banyak berbeda dengan metode mantra lain. Tetapi tujuannya ialah meningkatkan kerinduan akan Allah, sehingga Dia menentukan hidup kita seterusnya atau dengan kata lain: seperti Yesus, kita pun mau dibimbing oleh Roh Allah dalam hidup kita, dalam doa dan pekerjaan, dalam kesendirian dan pergaulan, dimana saja dan kapan saja.

Pastor John Main mengajarkan Meditasi Kristiani untuk membantu orang orang sibuk di era globalisasi ini. Ia menjadi seorang pembimbing rohani ternama, mungkin terbesar dalam abad ke-20, kata Pastor Bede Griffith, OSB. Pastor Laurence Freeman menjadi penerusnya dan membentuk wadah yang disebut 'World Community for Christian Meditation', bukan suatu organisasi, melainkan suatu ikatan antar meditator diseluruh dunia untuk saling meneguhkan, saling membantu dan menyebarkan ajaran Pastor John Main: Meditasi Kristiani.

Dalam "Meditasi Kristiani", kita dibantu untuk mengatasi segala macam pengalaman yang timbul baik yang menyenangkan maupun yang mengejutkan. Tetapi justeru karena itu sangat bergunalah kalau cara berdoa yang sederhana ini, juga dilakukan dalam kelompok. Kita akan dibantu oleh pengalaman orang lain yang lebih dahulu menekuni Meditasi Kristiani. Salain itu dapat juga dibantu oleh buku dan sarana audio visual lainnya tentang Meditasi Kristiani. Ini tidak hanya berguna pada saat kita mulai berdoa dengan cara ini, tetapi juga kalau kita sudah melangkah maju di jalan ini.

Bila anda tertarik pada cara berdoa seperti yang diajarkan oleh Pastor John Main, sebaiknya bergabung dalam kelompok yang sudah ada di berbagai kota di Indonesia. Anda bisa juga mengikuti program 6 minggu yang diadakan secara berkala, lalu putuskan apakah anda pun mau memperdalam hidup kristiani anda dengan cara berdoa ini.
Sekian. Terima kasih.












YOUTUBE: